Menyusuri Sudut Kelam Pasar Triwindu


Pasar Triwindu sempat mengalami masa kejayaan di jaman Presiden Soeharto. Di mana saat itu daya beli masyarakat masih snagat tinggi, karena nilai dollar yang masih rendah. Bahkan tiap hari Pasar Triwindu selalu dipadati pengunjung termasuk turis asing. Namun saat ini kondisinya berubah cukup drastis. Dan penyebabnya adalah tingkat kunjungan yang sangat rendah di komplek pasar ini.

Di pasar ini berbagai barang antik yang tidak bisa ditemukan di tempat lain, bisa didapatkan. Dan pada umumnya barang-barang seperti itu memang snagat disukai oleh para kolektor, terutama yang dari luar negeri. Karenanya tingkat kunjungan turis asing ke pasar ini begitu tinggi.
Beraneka patung, lampu-lampu antik serta mebel-mebel kuno dan beragam aksesoris kuno bisa didapatkan di sini. tapi tentunya butuh kejelian untuk bisa mendapatkan barang yang benar-benar berkualitas. Sebab bila tidak, maka pembeli bisa kecewa karena mendapatkan barang reproduksi tapi harganya tinggi.

Perubahan
Namun semuanya berubah bersamaan dnegan datangnya krisis ekonomi. Gejolak social yang terjadi di masyarakat benar-benar mempengaruhi daya beli dan bahkan kunjungan turis asing ke pasar ini. Akibatnya banyak pedagang yang menutup usahanya, dan pasar menjadi sepi. Sampai kemudian pasar ini direnovasi dan diresmikan dalam bentuk wajah yang baru di era walikota Joko Widodo.
Dengan wajah pasar yang baru yang terdiri dari dua lantai ini, tingkat persaingan untuk mendapatkan pembeli memang semakin tinggi. Karena itulah para pedagang berlomba untuk selalu menyediakan barang-barang yang unik, untuk bisa menarik minat pembeli. Karena itulah, tak jarang mereka akan berkreasi sendiri untuk menciptakan barang-barang baru, dari koleksi barang-barang mereka yang tidak laku terjual.
“Saya sudah biasa mengutak atik barang untuk dibuat jadi bentuk lain. Kalau tidak begitu, tentu tidak bisa menarik pembeli. Sebab pembeli itu ada dua jenis. Ada yang datang memang sudah punya niat mencari barang tertentu, tapi ada juga yang minatnya insidentil. Sehingga muncul setelah melihat barang tertentu. Karena itu bila ada barang yang sudah susah lakunya dan kebetulan kondisinya sudah tidak normal, biasanya akan sekalian saya kanibal dan saya gabung dnegan barang lain, menjadi barang bentuk baru,” jelas Yoyok salah seorang pedagang kepada depthINFO.com.

Jajaran kios di dalam Pasar Triwindu yang tampak sepi
Dan upaya-upaya seperti ini memang cukup membuat para pedagang bertahan hidup. Sebab akhirnya pengunjung di pasar ini mulai ada peningkatan, meski tidak seperti dulu lagi. Karena itulah, selain berkreasi, para pedagang ini juga butuh sebuah program khusus dari pemerintah, untuk bisa menggenjot tingkat kunjungan ke pasar Triwindu.
“Pembangunan Pasar Triwindu tidak diikuti dnegan program-program khusus yang bisa mendongkrak kunjungan ke pasar ini. Harusnya kawasan Ngarsopuro (Jl. Diponegoro) diubah seperti kawasan Malioboro di Jogja. Sehingga bisa berdampak pada peningkatan jumlah kunjungan di pasar ini,” ungkap BRM. Kusumo Putro, tokoh masyarakat yang juga Ketua Forum Komunikasi Masyarakat Sriwedari, yang selama ini kerap mendampingi para pedagang pasar untuk memperjuangkan hak-haknya. 
BRM Kusumo Putro

Saat ini di kawasan Ngarsopuro tiap Sabtu malam memang diadakan semacam pasar malam. Namun hal itu tidak akan berdampak pada Pasar Triwindu, meskipun berada di lokasi yang sama. Sebab pasar malam Ngarsopuro beroperasi di saat Pasar Triwindu sudah tutup. Karena Pasar Triwindu hanya beroperasi dari pagi sampai sore saja.
Karena itulah ada kekhawatiran hilangnya nilai sejarah Pasar Triwindu bila tidak segera ada terobosan baru dari pemerintah untuk mengembangkan pasar ini. Sebab pasar yang didirikan Mangkunegara VII itu, merupakan salah satu ikon pariwisata di Kota Solo. Sehingga harusnya dilindungi.
Pasar Triwindu memang didirikan oleh Mangkunegara VII pada 1939, sebagai penanda 24 tahun masa kepemimpinannya. Kata triwindu yang berasal dari kata tri dan windu mengandung makna tiga windu atau 24 tahun. Dan pasar ini dibuka sebagai bagian upaya peningkatan kesejahteraan ekonomi masyarakat Solo.
Pada awal dibentuk sebenarnya pasar ini adalah pasar umum. Tapi seiring berjalannya waktu akhirnya mengkhususkan diri sebagai pasar barang antik, dan bertahan hingga sekarang. Dan hal itu membuatnya menjadi satu destinasi wisata baru di Kota Solo. 
“Yang dibutuhkan saat ini adalah promosi, seperti memasukkan Pasar Triwindu dalam paket-paket wisata, yang selama ini nyaris tidak dilakukan. Lalu pemanfaatan lahan di depan pasar untuk serangkaian event-event tertentu, kemungkinan besar juga bisa meningkatkan jumlah kunjungan ke pasar ini. Sehingga pada akhirnya pasar ini akan tetap hidup dan menjadi salah satu ikon wisata Kota Solo,” tegas Kusumo. /

No comments:

Post a Comment