Home » » Mengintip Nasib di Ujung Janur Sanggaran

Mengintip Nasib di Ujung Janur Sanggaran







Janur khusus yang diletakkan (disanggarkan) di dekat nakam R.Ng. Yosodipuro I, diyakini bisa memberi gambaran nasib di masa yang akan datang. Karenanya ratusan orang akan selalu memadati makam sang tokoh, untuk mencoba mengadu nasib di tiap malam Jumat Pahing.


Wajah lelah tampak tersirat di wajah Suparmi. Sambil menjinjing sebuah tas kain, sesekali perempuan ini tampak menyeka keringat yang membasahi wajahnya. Tak heran kalau perempuan asal Sragen, Jawa Tengah ini tampak begitu lelah. Sebab menurut pengakuannya dia baru berjalan kaki lebih dari 3 km, untuk sampai di tempatnya sekarang. Bukannya karena tidak ada angkutan umum yang bisa ditumpanginya, tapi semua karena bagian dari lelaku yang sedang dijalani pedagang buah di Pasar Sragen ini.
Ya. Malam itu memang tepat malam Jumat Pahing. Waktu di mana para pengalab berkah datang untuk menjalankan ritual Sanggaran di makam R. Ng. Yosodipuro I. Karenanya, sejak sore komplek makam yang berada di Dusun Ngalian, Desa Bendan, Kecamatan Banyudono, Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah itu telah penuh sesak dengan para pengunjung.
Ritual Sanggaran sendiri adalah sebuah ritual khusus yang dilakukan untuk mengetahui nasib di masa yang akan datang. Dipilihnya malam Jumat Pahing, karena hari itu adalah weton atau hari lahir dari Yosodipuro. Selain itu konon Jumat Pahing adalah hari yang penuh keprihatinan, sehingga perlu diadakan ritual agar seseorang bisa terbebas dari kesusahan.
Dalam ritual itu seorang pengunjung akan diberi selembar janur kuning oleh petugas makam. Janur itu kemudian diletakkan di dekat makam Yosodipuro, dan pada tengah malam akan diambil lagi. Pada saat diambil, di atas janur itu akan terdapat sebuah tulisan huruf Arab, yang terjemahannya bisa dibaca di sebuah papan di dekat bangunan makam Dan agar mendapatkan huruf dengan terjemahan nasib baik, biasanya para pengunjung telah mempersiapkannya dengan berbagai ritual tertentu..

Tirakat
Seperti yang dilakukan oleh Suparmi, perempuan 50 tahun ini mengaku sebelumnya telah melakukan puasa selama tiga hari. Hal ini dilakukan atas petunjuk seseorang yang selama ini menjadi penasihat spiritualnya. Termasuk jalan kaki menuju komplek makam.
Ritual di makam Yosodipuro

Puasa kerap menjadi pilihan utama para praktisi spiritual sebelum menjalankan berbagai ritual tertentu. Sebab puasa diyakini sebagai sebuah bentuk kepasrahan seorang manusia pada Sang Pencipta. Yang mana dari lelaku tersebut diharapkan akan terbentuk sikap sabar dan ikhlas, yang bisa menjadi modal utama dalam menjalani kehidupan.
Demikian pula dengan Suparmi. Dia berharap dengan puasa yang telah dilakukannya, dirinya bisa semakin sabar dalam menjalani segala cobaan hidup. Sehingga dengan kesabaran yang ada tersebut, akan membuatnya merasa ringan dalam menjalankan berbagai bentuk tirakat. Hal ini menjadi sangat penting, sebab terkabul atau tidaknya harapan yang telah ditanamkan dalam hatinya, sangat tergantung dari keberhasilan berbagai tirakat yang dijalankan.
“Orang hidup ini kan tidak lepas dari yang namanya tirakat. Kita bisa selalu berhasil dalam hidup bila kita gemar tirakat. Demikian juga dengan sanggaran ini. Jangan harap nanti keluar huruf baik kalau kita tidak pernah melakukan tirakat apapun,” ungkapnya saat ditemui depthINFO.com di serambi makam Yosodipuro I.
Sanggaran malam itu sendiri adalah ritual yang ke empat bagi Suparmi. Dan untuk kesempurnaan nasib hidupnya, dia mengaku setidaknya harus melakukannya tiga kali lagi. Sebab ada petunjuk tidak tertulis, bahwa kesempurnaan hasil dari ritual Sanggaran biasanya akan didapat pada ritual ke tujuh. Yang artinya bahwa seseorang harus senantiasa datang selama tujuh kali Jumat Pahing ke tempat itu, bila ingin harapannya terkabul.
Entah kenapa harus tujuh kali. Mbah Muhadi sang juru kunci makam Yosodipuro sendiri tidak bisa menjelaskan. Menurut pria 85 tahun ini, sebenarnya tidak ada aturan bagi para pelaku ritual untuk nyanggar hingga jumlah tertentu. Semua tergantung pada keyakinan masing-masing. Tapi dirinya tidak melarang kalau kemudian ada orang yang nyanggar sampai berkali-kali. Toh menurutnya apa yang dilakukan baik-baik saja.
“Orang datang ke sini kan sebenarnya tujuannya untuk berziarah ke makam eyang (Yosodipuro I). Dan kalau misalnya mau datang ke sini berkali-kali tentunya hal itu akan sangat baik. Sebab dengan begitu seseorang akan senantiasa ingat kalau pada akhirnya dia akan mati. Lalu kalau misalnya kemudian dia mendapat berkah atau rejeki berlimpah, itu berarti janji eyang benar-benar terwujud. Sebab sebelum meninggal, eyang pernah berjanji bahwa siapa saja yang mendapat kesulitan dan mau menyanggarkan (meletakkan) janur kuning di makamnya, maka Gusti Allah akan memberikan petunjuk,” papar Muhadi.
Muhadi mungkin tidak bisa menjelaskan makna tujuh kali ritual itu, tapi bagi Suparmi dan para pengalab berkah yang lain, jumlah tujuh kali itu sangat penting. Sebab menurutnya kata tujuh yang dalam bahasa Jawa disebut pitu bisa diartikan sebagai pitulungan atau pertolongan. Sehingga diyakini dengan menjalankan ritual sebanyak tujuh kali, maka pertolongan yang diharapkan akan datang.
Karenanya meski masih terlihat lelah setelah berjalan kaki cukup jauh, Suparmi tidak segera berhenti untuk istirahat. Banyaknya warung makanan dadakan yang buka di sepanjang jalan menuju ke komplek makam, tak mampu membuat dirinya tergiur. Suparmi terus saja melangkah menuju ke gapura pintu masuk komplek makam.
Tepat di depan gapura dengan hiasan dua tameng Keraton Surakarta, Suparmi berhenti. Sejenak tangannya merogoh ke dalam tas yang dijinjingnya. Beberapa keping uang logam tampak digenggamnya dan diberikan pada dua orang pengemis tua, yang duduk di depan tangga pintu masuk makam.
Suparmi kembali melangkah. Seorang pria tua menyapanya dengan ramah begitu dia melewati pintu masuk. Pria itu adalah petugas makam yang bertugas mendata setiap tamu yang datang malam itu. Setelah didata, Suparmi dipersilahkan untuk mendatangi petugas yang lain yang berada tepat di samping meja pertama. Di atas meja petugas yang kedua ini tampak ratusan helai daun janur kuning. Inilah janur yang menjadi perlengkapan utama dalam ritual sanggaran.

Nomor Keberuntungan
Seperti halnya para pengunjung yang lain, Suparmi juga mendapatkan jatah satu helai, yang ditandai dengan sebuah nomor tepat di pangkal benda itu. 257, itulah nomor yang didapatkan Suparmi yang menurutnya adalah nomor keberuntungan baginya. Sebab angka itu menunjukkan bulan dan tahun kelahirannya. Selain itu dua angka di belakang nomor itu bila disingkat akan membentuk satu kata yang sangat didambakan oleh setiap orang yang memiliki bisnis, yaitu maju (asal kata dari lima dan tujuh, red).
Janur yang dipilih, kemudian disanggarkan di dekat makam Yosodipuro

“Semoga saja nomor ini mewakili apa yang menjadi keinginan saya (kelancaran usaha dagangnya),” harapnya sambil mencium selembar kertas kecil bertuliskan nomor dari janur yang didapat.
Dengan didapatnya janur sanggaran, seorang pelaku ritual bisa diibaratkan sedang memasuki masa-masa kritis. Sebab bukan tidak mungkin hasil sanggaran tersebut akan bertolak belakang dengan apa yang dia harapkan. Bagi yang yakin, nasibnya di masa yang akan datang bisa berubah seratus delapan puluh derajat, sesuai dengan pertanda yang didapat.
Misalnya, meski sebelumnya telah menjadi orang yang sukses, tapi bila hasil sanggaran meramal buruk, maka bukan tidak mungkin kehidupannya akan berubah menjadi buruk. Pun demikian sebaliknya. Bukan tidak mungkin seseorang yang sebelumnya hidup susah, bisa berubah jadi kaya raya bila hasil sanggaran menunjukkan demikian.
Karenanya tak jarang bagi mereka yang sudah hidup mapan enggan mencoba untuk ikut nyanggar. Kalaupun ikut datang, paling-paling cuma sebatas berziarah sambil berdoa dengan harapan kehidupannya bisa senantiasa berkah.
Meski telah tahu resiko yang bakal dihadapi, namun Suparmi agaknya telah siap mental. Dia tidak takut kalau misalnya nasibnya nanti justru berubah jadi buruk setelah sanggaran. “Rejeki itu kan sudah ada yang ngatur. Kita ini bisanya ya cuma tirakat,” ucapnya pasrah.

Tapa Kungkum
Kepasrahan jiwa pada Yang di Atas memang telah membuat Suparmi begitu tegar menghadapi segala kemungkinan yang akan erjadi. Bekal tirakat yang sering dilakukannya agaknya memang benar-benar terlihat di sini. Karenanya menjelang detik-detik puncak ritual sanggaran, Suparmi pun telah siap menyambutnya dengan laku tapa kungkum di Umbul Sungsang.
Meski sederhana, namun ritual tapa kungkumdi Umbul Sungsang ini terbilang satu bentuk ritual yang sangat berat. Sebab siapapun tentu akan merasa tersiksa dengan dinginnya air di tempat itu, pada malam hari. Selain itu, akan butuh kesiapan mental, untuk berendam dalam keadaan telanjang bulat, bersama para pelaku ritual lain yang berlainan jenis.
“Saya sudah empat kali ini melakukannya, jadi sepertinya saya siap-siap saja,” ucapnya sambil tersenyum.
Tekad untuk maju, memang telah menuntun Suparmi untuk terus maju menerjang serangkaian ujian dalam ritual itu. Untuk menguatkan tekadnya, restu dari R. Ng.Yosodipuro I pun dimintanya. Bulir-bulir air mata tampak terlihat mengalir membasahi pipinya, di tengah kekhusyuannya berdoa di samping pusara sang pujangga besar ini. Gerakan tangan seperti menyembah menjadi tanda selesainya doa para peziarah termasuk Suparmi. Karenanya perempuan ini segera beringsut mundur meninggalkan lokasi makam.
Suparmi segera menuju ke serambi makam di mana di situ tengah diadakan selamatan. Sebuah tumpeng berukuran besar yang dibuat dari nasi liwet menjadi sesaji utama dalam selamatan itu. Suparmi pun segera meraih sebuah takir (mangkuk daun pisang). Secentong nasi liwet segera didapatkannya lengkap dengan lauk opor ayam dan sambal goreng hati. Dan dengan lahap makanan itu segera disantapnya.
“Lumayan untuk menahan dingin sebelum kungkum (berendam),” ucapnya singkat.
Tepat pukul 11.45 WIB saat Suparmi selesai menghabiskan makanannya. Selanjutnya diapun bergegas pergi menuju Umbul Sungsang yang berjarak sekitar 200 meter dari makam Yosodipuro. Beberapa orang telah tampak berdiri di tepi kolam dengan kedalaman air setinggi dada orang dewasa itu. Dan seolah tidak mempedulikan pasangan-pasangan mata yang menatap dirinya, Suparmi dengan tenang segera melepas seluruh pakaiannya. Hanya dengan selembar jarik, perempuan ini mulai masuk ke dalam kolam.
Untunglah keadaan di kolam itu sangat gelap. Sehingga meski kemudian Suparmi melepas jarik yang menutupi tubuhnya, nyaris tidak ada orang yang bisa melihat dengan jelas lekuk tubuh perempuan ini. Yang terdengar hanya suara gemercik air berpadu dengan aroma khas asap hioswa dan bunga setaman yang disebarkan di tengah kolam.
Sambil mengatupkan kedua tangan di depan dada, perempuan ini tampak khusyu berkonsentrasi menyerap energi yang terpancar dari air Umbul Sungsang. Harapan besar agar rejekinya bisa senantiasa berlimpah seperti air di kolam itu, terbersit dalam hatinya. Karenanya dia tidak menghiraukan sama sekali kehadiran para pelaku ritual lain, yang mulai memasuki kolam.
Hampir satu jam sudah Suparmi dan beberapa pelaku ritual kungkum merendam tubuh mereka di dinginnya air Umbul Sungsang. Sampai akhirnya satu demi satu mulai keluar dari kolam, tak terkecuali Siuparmi. Hanya saja perempuan ini memilih untuk keluar belakangan. Sebab menurutnya di tengah dinginnya air Umbul Sungsang, dia merasakan ada energi yang merasuki jiwanya. Hingga membuatnya merasa begitu tenang dan lupa dengan berbagai masalah hidup yang ada dalam pikirannya.

Mengadu Nasib
Usai berendam, para pelaku ritual segera menuju ke serambi makam. Di situ janur yang sebelumnya telah disanggarkan di dekat pusara Yosodipuro tampak tertumpuk di atas meja. Ada lebih dari tiga ratus lembar janur yang telah selesai disanggarkan dan siap diterawang untuk dilihat hasilnya. 
Hasil dari sanggaran bisa dicocokkan dengan penafsiran yang dijabarkan di sebuah papan di komplek makam Yosodipuro

Dengan didampingi seorang petugas makam, Muhadi melangkah mendekati tumpukan janur itu. Satu per satu janur diambil berdasarkan nomor urut dan mulai diterawang di depan lampu yang menerangi tempat itu. “Nomor satu Dal, nomor dua kaf …,” ucap petugas makam membacakan satu per satu hasil sanggaran sampai akhirnya, “Nomor 257 alif.”
Huruf alif didapat Suparmi dari hasil sanggaran itu yang berarti bahwa nasibnya akan baik dan hajatnya akan terkabul. Hal ini tentu membuat wajahnya beseri-seri. Senyum lebar mengembang di wajahnya, menandakan kalau dirinya sangat puas dengan hasil sanggaran itu. Karenanya tak henti-hentinya dia berucap syukur dengan harapan apa yang didapatkannya malam itu benar-benar terwujud menjadi kenyataan.
   Sementara Suparmi terlihat gembira dengan hasil ritualnya, beberapa pelaku ritual yang lain tampak tertunduk lesu. Sebab dari makna huruf yang didapat, mereka divonis bernasib kurang beruntung. Sehingga tentu harus memaksa mereka untuk senantiasa berhati-hati dalam menjalani kehidupannya. Namun lepas dari itu, sikap hati-hati adalah hal yang mutlak ditunjukkan setiap manusia, dalam menjalani kehidupannya. Sebab dengan selalu berhati-hati, maka seseorang akan senantiasa terhindar dari berbagai marabahaya. Yang mana ujung-ujungnya akan membawanya menemukan berbagai keberuntungan. //

Thanks for reading & sharing depthINFO.com

Previous
« Prev Post

0 komentar:

Post a Comment