Friday, January 27, 2017

Ternyata Begini Rahasia Membuat Keris Sakti





Standart yang sangat ketat, diterapkan oleh Padepokan Brojobuwono, dalam menciptakan sebilah keris yang berkualitas. Yang mana hal itu merupakan pakem dan tradisi dari para empu sakti di masa lalu.



Suara besi beradu terdengar saling bersahutan dari arah belakang sebuah rumah di wilayah Desa wonosari, Kecamatan Gondangrejo, Kabupeten Karanganyar, Jawa Tengah. Tampak tiga orang pria berpakaian serba putih sedang mengarahkan palu besar yang digenggamnya ke permukaan besi membara di depannya. Dan tak ayal, percikan bunga api pun terlontar ke berbagai arah, akibat benturan palu dnegan besi membara itu.
Aktifitas seperti ini hampir tiap hari bisa ditemui di dalam rumah yang juga merupakan sebuah besalen, atau tempat pembuatan keris itu. Ini karena order pesanan pembuatan keris di besalen ini terbilang cukup banyak. Sehingga sang pemilik, yang tak lain adalah Empu Basuki Teguh Yuwono memang hampir tiap hari selalu melakukan proses pembuatan.
“Kebetulan kami sedang membuat keris pesanan dari seorang pejabat di Jakarta. Tapi untuk jenisnya kami tidak bisa memberitahukannya,” ujar Empu Basuki singkat kepada depthINFO.com
Besalen yang diberi nama Padepokan Brojobuwono itu selama ini memang dikenal sebagai salah satu besalen yang kerap menjadi jujugan para kolektor untuk mendapatkan keris-keris berkualitas. Sebab di padepokan ini, Empu Basuki berusaha untuk menerapkan standard yang ketat dalam proses pembuatan keris-kerisnya. 

Ada serangkaian prosesi yang akan dijalankan dalam pembuatan keris. Yang mana hal itu disesuaikan dnegan proses pembuatan keris pusaka yang dilakukan oleh para empu kondang pada jaman dulu. Dan sebagai seorang dosen mata kuliah Keris dan Senjata Tradisional di Institut Seni Indonesia Surakarta, tentu Empu Basuki snagat memahami berbagai literature yang menjelaskan tentang hal itu.
Ya, selain sebagai seorang empu pembuat keris, Basuki memang sangat aktif dalam kampanye penyebaran informasi terkait senjata tradisional Indonesia ini. Berbagai metode dilakukannya, mulai dari workshop, seminar, pembuatan buku sdampai dnegan film pendek tentang keris dilakukan oleh Empu Basuki, untuk semakin mengenalkan keris ke masyarakat umum. Dan untuk itu berbagai penelitian dilakukannya untuk mengungkap rahasia di balik proses pembuatan sebilah keris.
“Misi utama kami adalah pelestarian tradisi budaya. Dan keris sebagai bagian dari budaya itu selalu diikuti serangkaian tradisi, yang membuatnya menjadi istimewa. Karena itulah di padepokan Brojobuwono ini kami berusaha menerapkan tradisi itu, terutama terkait prosesi yang bersifat spiritual yang mengikuti proses pembuatan keris itu,” jelasnya.

Kualitas Tinggi
Tak hanya menggelar sebuah ritual khusus sebelum proses pembuatan, Empu Basuki juga menggelar ritual lanjutan saat keris selesai dibuat. Dan semua itu akan direkam dalam bentuk DVD yang akan diberikan ke pemesan, saat keris yang dipesannya selesai dibuat. 
Ritual penyempurnaan energi keris

“Keris tidak hanya sebagai sebuah senjata tetapi dapat diartikan sebagai pelindung dari segala macam gangguan baik fisik maupun gaib. Karena itu dalam pembuatannya dilakukan secara eksklusif. Yang mana antara satu orang dengan yang lain aka nada perbedaan perlakuan,” unkapnya. “Karena itu sebelum proses pembuatan, kami akan melakukan konsultasi untuk mengetahui karakter pribadi serta unsure-unsur kelahiran dari si pemesan. Lalu ada serangkaian prosesi wilujengan untuk mengawali proses pembuatan, yang mana di sana kami juga melibatkan si pemesan. Dan di proses akhir, keris itu akan kita kirab keliling desa pada tengah malam, sebagai bagian dari rangkaian proses ritual penyempurnaan keris tersebut,” sambungnya
Ritual ini dipandang perlu karena keris yang akan dibuat harus sesuai dengan karakter pribadi orang yang memesannya. Sehingga kekuatan energi spiritual yang terserap dalam logam tersebut, nantinya diharapkan benar-benar bisa bersinergi dnegan jalan hidup si pemilik.
Selain itu, dengan mengungkap karakter pribadi si pemesan, maka hal itu bisa berkaitan dnegan penggunaan bahan-bahan logam yang akan dijadikan campuran. Dalam hal ini terkait dengan komposisi dan perbandingannya.
Saat kesimpulan tentang karakter pribadi si pemesan sudah didapat, maka campuran logam yang berupa pasir besi, serta nikel mulai disiapkan. Yang kemudian dilebur menjadi lempengan, dan kemudian ditempa dengan dilipat hingga ratusan kali, untuk menciptakan pamor yang dikehendaki.
Dan setelah beberapa waktu, di saat seluruh bilah keris sudah selesai dibentuk. Maka proses berikutnya adalah melakukan penyepuhan dengan merendam dalam larutan arsenic. Hal ini ditujukan untuk memunculkan pamor keris serta membuat keris tersebut lebih tahan lama. Dan di akhir proses pembuatan, dilanjutkan dnegan menggelar ritual khusus berupa kirab.
“Kirab itu adalah bentuk simbolisasi penyebaran energi keris tersebut ke seluruh alam. Yang tujuannya untuk menciptakan harmonisasi energy, sehingga pada akhirnya energy tersebut bisa bersinergi dengan sang pemilik nantinya,”  lanjut pria yang kerap diundang sebagai pembicara dalam persoalan budaya dan keris itu.
Kirab sengaja dilakukan pada tengah malam yang merupakan saat di mana pancaran kekuatan energi alam bisa diserap dengan baik oleh pusaka. Tak hanya itu, kirab pada malam hari juga merupakan wujud penyatuan diri dengan alam semesta. Sebab dalam kegelapan malam, segala sesuatu akan melebur menjadi satu, sehingga memudahkan dalam melakukan kontak dengan Sang Pencipta.
Kirab untuk penyempurnaan pusaka

Hal ini perlu karena dalam kirab itu seluruh peserta yang terdiri dari para budayawan serta keluarga besar Padepokan Brojobuwono berjalan kaki tanpa alas kaki dan tanpa suara, alias tapa mbisu. Menurut Empu Basuki, tapa mbisu adalah sebuah wujud laku spiritual yang memosisikan seseorang hanya menjalin kontak dengan Sang Pencipta. Sebab seluruh konsentrasi hati dan pikiran hanya akan menuju ke sana. Tanpa harus terganggu dengan komunikasi antar sesama manusia.
Kondisi Desa Wonosari yang masih banyak ditumbuhi hutan-hutan jati, semakin menguatkan kesakralan ritual kirab ini. Apalagi para peserta kirab hanya membawa beberapa obor sebagai penerangan jalan. Dan kesakralan itu semakin bertambah dengan aroma asap dupa dan kemenyan yang senantiasa mengepul dari sebuah tungku kecil yang dibawa salah seorang peserta kirab.
Namun lepas dari tujuan yang bersifat spiritual, segala apa yang dilakukan oleh Empu Basuki adalah bagian dari upayanya untuk senantiasa mengenalkan keris dan berbagai hal yang melekat di dalamnya, kepada masyarakat. karena itulah, dalam setiap penyelenggaraan acara tersebut, Empu basuki juga melibatkan banyak orang, termasuk masyarakat desa di sekitar padepokan berada.
“Ini adalah bagian dari pelstarian tradisi. Dengan begitu maka keistimewaan dari sebuah keris sebagai karya budaya akan senantiasa terjaga,” pungkasnya. //

No comments:

Post a Comment